JANGAN AJARKAN KEWARGAAN GLOBAL SEBELUM MENGUATKAN IDENTITAS LOKAL

Prof. Ace Suryadi, M.Sc., Ph.D.

Deputy Director of GCC Indonesia

Di tengah derasnya arus globalisasi, dunia pendidikan kini seolah berlomba untuk menyiapkan generasi muda yang katanya agar menjadi “warga dunia” atau global citizens. Berbagai konsep diperkenalkan: kesadaran global, keberagaman budaya, keberlanjutan lingkungan, literasi digital, hingga tanggung jawab terhadap kemanusiaan secara universal.

Semua itu penting. Namun ada satu pertanyaan mendasar yang jarang sekali diajukan bahkan mungkin hampir tidak pernah disinggung: bagaimana mungkin seseorang menjadi warga dunia yang baik jika ia belum memahami siapa dirinya sendiri?

Dalam banyak diskusi pendidikan internasional, global citizenship education (GCED) atau pendidikan kewargaan global sering dipahami sebagai upaya membangun kesadaran bahwa manusia hidup dalam dunia yang saling terhubung (interconnected World). Beberapa isu seperti perubahan iklim, kecerdasan buatan, migrasi, konflik sosial, krisis pangan, dan disrupsi teknologi tidak lagi mengenal batas negara. Masa depan generasi muda sangat ditentukan oleh kemampuan mereka memahami persoalan-persoalan tersebut dari perspektif global yang saling terhubung.

Tetapi ada suatu kecenderungan yang perlu kita waspadai. Dalam mengejar kompetensi global yang terlalu bersemangat, pendidikan sering kali melupakan akar budaya tempat peserta didik itu tumbuh dan berkembang. Akibatnya, globalisasi dipahami sebagai proses menjadi semakin modern, semakin internasional, bahkan mungkin semakin berjarak dengan peserta didik menyerupai budaya lain.

Padahal menjadi warga dunia tidak pernah bahkan mungkin tidak boleh megandung arti “menjadi manusia tanpa akar”.

Pengalaman riset dan analisis empiris yang dilakukan GCC-Indonesia justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Semakin kuat seseorang memahami identitas budayanya, semakin siap pula ia berinteraksi dengan dunia yang lebih luas, dengan kata lain menjadi manusia global.

Hal ini menjadi semakin penting ketika kita menyaksikan berbagai paradoks yang muncul di kalangan generasi muda kita. Mereka dapat mengakses informasi dari seluruh dunia dalam hitungan detik, tetapi sering kali tidak mengenal nilai-nilai budaya di lingkungannya sendiri. Mereka berbicara tentang perubahan iklim di media sosial, tetapi tidak peduli terhadap sungai yang tercemar di sekitar tempat tinggalnya. Mereka memahami konsep toleransi secara teoritis, tetapi belum tentu mampu membangun dialog dengan kelompok yang berbeda di lingkungan sehari-hari.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama pendidikan saat ini bukan kekurangan informasi, bahkan mungkin kelebihan informasi. Namun, yang lebih mendasar bukanlah pada bagaimaba mengakses informasi tetapi bagaimana menghubungkan pengetahuan tentang informasi tersebut dengan tindakan nyata.

Dalam berbagai penelitian pendidikan, fenomena ini dikenal sebagai knowledge-action gap, yaitu kesenjangan antara apa yang diketahui denga apa yang dapat dilakukan. Banyak siswa memahami masalah global, tetapi tidak merasa memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam penyelesaiannya.

Karena itulah pendidikan kewargaan global tidak cukup diajarkan melalui ceramah tentang isu-isu internasional. Pendidikan harus dimulai dari pengalaman hidup yang nyata dan dekat dengan peserta didik.

Di Jawa Barat, misalnya, pendekatan yang kami kembangkan melalui program GCED berangkat dari keyakinan bahwa persoalan lokal merupakan pintu masuk terbaik untuk memahami tantangan global.

Banjir yang terjadi di setiap musim hujan tidak hanya berbicara tentang drainase lingkungan, tetapi juga tentang perubahan iklim. Persoalan sampah bukan sekadar masalah kebersihan dan keindahan lingkungan, melainkan bagian dari isu keberlanjutan global. Hoaks yang beredar di media sosial bukan hanya persoalan individu, tetapi juga ancaman terhadap kualitas demokrasi di era digital. Bahkan penggunaan kecerdasan buatan di sekolah membuka diskusi mengenai etika teknologi yang sedang menjadi perhatian dunia.

Ketika peserta didik diajak memahami keterkaitan tersebut, mereka mulai menyadari bahwa masalah global sesungguhnya hadir dalam kehidupan sehari-hari. Namun pendekatan kontekstual saja tidak cukup. Pendidikan memerlukan fondasi nilai yang mampu menjadi kompas moral bagi generasi muda.

Dalam konteks Indonesia, fondasi itu sesungguhnya sudah kita miliki. Pancasila menawarkan seperangkat nilai yang sangat relevan untuk menjawab tantangan abad ke-21: kemanusiaan, keadilan sosial, penghormatan terhadap keberagaman, tanggung jawab kolektif, dan semangat gotong royong.

Nilai-nilai tersebut tidak kalah universal dibandingkan konsep-konsep yang berkembang dalam diskursus internasional. Bahkan dalam banyak hal, Pancasila menawarkan perspektif yang lebih seimbang antara hak dan tanggung jawab, antara kebebasan dan solidaritas sosial.

Di tingkat lokal, Indonesia juga memiliki kekayaan kearifan budaya yang luar biasa. Salah satunya adalah Pancawaluya dalam tradisi Sunda: cageur, bageur, bener, pinter, dan singer. Lima nilai tersebut menggambarkan nilai-nilai karakter manusia yang sehat dan tangguh, berakhlak baik, berintegritas, cerdas, sekaligus adaptif terhadap perubahan.

Jika dicermati, kualitas-kualitas itulah yang sebenarnya dibutuhkan untuk menghadapi masa depan global yang penuh ketidakpastian.

Oleh karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah bagaimana menjadikan anak-anak Indonesia sebagai warga dunia. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah bagaimana menjadikan mereka manusia Indonesia agar mampu memberikan kontribusi bagi dunia.

Perbedaannya mungkin tampak sederhana, tetapi implikasinya sangat besar.

Pendekatan pertama berisiko menghasilkan generasi yang mengejar standar global tanpa pijakan budaya yang kuat. Pendekatan kedua menghasilkan generasi yang terbuka terhadap dunia, tetapi tetap memiliki identitas, nilai, dan kompas moral yang jelas.

Inilah yang saya sebut sebagai kewargaan global yang berakar. Seorang anak dapat menjadi warga daerah, warga negara Indonesia, warga digital, dan warga dunia sekaligus secara bersamaan. Tidak ada pertentangan di antara identitas-identitas tersebut.

Justru identitas lokal yang kuat akan memperkaya kontribusinya terhadap masyarakat global.

Dalam dunia yang semakin terhubung, keberagaman budaya bukan hambatan bagi kewargaan global. Sebaliknya, keberagaman itulah yang menjadi sumber kekuatan utama umat manusia. Dunia tidak membutuhkan generasi yang seragam. Dunia membutuhkan generasi yang mampu membawa perspektif, pengalaman, dan nilai-nilai terbaik walaupun berbeda-beda dari komunitasnya masing-masing untuk menyelesaikan persoalan bersama.

POleh karena itulah maka, masa depan pendidikan Indonesia tidak terletak pada pilihan antara lokal atau global. Keduanya harus berjalan secara bersamaan.

Semakin global tantangan yang kita hadapi, semakin penting pula memperkuat akar budaya yang kita miliki.

Sebab pada akhirnya, warga dunia yang paling dibutuhkan bukanlah mereka yang melupakan asal-usulnya, melainkan mereka yang mampu membawa nilai-nilai terbaik dari tanah kelahirannya untuk membangun dunia yang lebih adil, damai, dan berkelanjutan.

Pencarian

Tentang Kami

Global Citizenship Education Cooperation Center (GCC)-Indonesia adalah lembaga yang didirikan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di bawah naungan Asia Pacific Center of Education for International Understanding (APCEIU) untuk memfasilitasi promosi Global Citizenship Education (GCED) di seluruh sistem pendidikan di Indonesia.

Views

Flag Counter

Our Social Media

YouTube: GCED ISOLAedu
Instagram: gced_isolaedu
Facebook: GCED Isolaedu
Tiktok: gced_isolaedu