Dari Jawa Barat untuk Dunia: Membangun Generasi Warga Global Berkarakter

Dr. Dasim Budimansyah

Director of GCC Indonesia

Profesor bidang Citzenship Sociology

Universitas Pendidikan Indonesia

Di tengah derasnya arus globalisasi dan revolusi digital, pendidikan tidak lagi cukup hanya mengajarkan “apa yang harus diketahui”, tetapi harus menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendasar: siapa yang akan kita bentuk sebagai manusia dan warga dunia? Hari ini, siswa SMA di Jawa Barat tidak hanya hidup sebagai warga lokal, tetapi juga sebagai warga digital dan warga global yang setiap hari terhubung dengan dunia—melalui informasi, teknologi, bahkan krisis global seperti perubahan iklim dan disinformasi. Dunia yang saling terhubung (interconnected world) bukan lagi konsep abstrak, melainkan realitas sehari-hari yang menuntut kesiapan berpikir kritis, empati lintas budaya, dan tanggung jawab moral .

Namun, di sinilah letak persoalan pendidikan kita. Pembelajaran sering kali masih berhenti pada aspek kognitif—siswa tahu, tetapi belum tentu peduli dan bertindak. Padahal, tantangan global seperti hoaks, polarisasi sosial, kesenjangan digital, dan disrupsi teknologi tidak dapat dihadapi hanya dengan pengetahuan. Dibutuhkan integrasi antara knowing, feeling, and acting—dimensi kognitif, sosial-emosional, dan perilaku—sebagaimana ditegaskan dalam pendekatan Global Citizenship Education (GCED) . Tanpa integrasi ini, pendidikan berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral dan pasif dalam menghadapi realitas dunia.

Dalam konteks inilah, inisiatif “Menjadi Warga Dunia Berkarakter Pancawaluya” menjadi sangat relevan dan strategis. Pendekatan ini tidak sekadar mengadopsi konsep global, tetapi mengakar kuat pada nilai-nilai lokal melalui Pancasila dan karakter Pancawaluya—cageur, bageur, bener, pinter, dan singer. Pancasila ditempatkan sebagai kompas moral global, sementara Pancawaluya menjadi bentuk konkret karakter yang dapat dihidupi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pendidikan kewargaan tidak lagi bersifat normatif dan abstrak, tetapi hidup dalam tindakan nyata—mulai dari menyaring informasi secara kritis, menghargai perbedaan, hingga mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar .

Lebih menarik lagi, pendekatan ini didukung oleh model pembelajaran RADEC (Read–Answer–Discuss–Explain–Create), yang mengubah kelas dari ruang transfer pengetahuan menjadi ruang transformasi. Siswa tidak hanya membaca dan memahami, tetapi juga merefleksi, berdialog, dan mencipta aksi nyata. Di sinilah pendidikan menemukan makna sejatinya: bukan sekadar mempersiapkan masa depan, tetapi membentuk generasi yang mampu menciptakan masa depan. Sebagaimana ditegaskan dalam panduan guru, tujuan akhir pembelajaran bukan berhenti pada “knowing about the world”, tetapi bergerak menuju “acting in the world” .

Jawa Barat, dengan kompleksitas sosial dan jumlah penduduk yang besar, adalah miniatur dunia. Apa yang terjadi di dunia—ketimpangan, konflik, peluang, dan kolaborasi—semuanya dapat ditemukan di sini. Karena itu, membangun warga global tidak harus dimulai dari panggung internasional, tetapi dari ruang kelas, dari sekolah, dari tindakan sederhana siswa sehari-hari. Dunia tidak berubah hanya oleh kebijakan besar, tetapi juga oleh keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh generasi muda.

Pada akhirnya, pendidikan adalah tentang harapan. Harapan bahwa generasi muda Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam arus globalisasi, tetapi menjadi aktor yang berkarakter, berakar, dan bertanggung jawab. Dari Jawa Barat untuk dunia, kita sedang menanam benih itu—membangun generasi yang tidak hanya memahami dunia, tetapi juga berani mengubahnya.

 

Pencarian

Tentang Kami

Global Citizenship Education Cooperation Center (GCC)-Indonesia adalah lembaga yang didirikan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di bawah naungan Asia Pacific Center of Education for International Understanding (APCEIU) untuk memfasilitasi promosi Global Citizenship Education (GCED) di seluruh sistem pendidikan di Indonesia.

Views

Flag Counter

Our Social Media

YouTube: GCED ISOLAedu
Instagram: gced_isolaedu
Facebook: GCED Isolaedu
Tiktok: gced_isolaedu