Catatan dari Istana | Taklimat Presiden RI

Pagi itu, Kamis 15 Januari 2026, saya melangkah memasuki Istana Kepresidenan Jakarta dengan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bertempat di Ruang Tengah Istana Kepresidenan, sejak pukul 09.00 hingga sekitar 12.30 WIB, saya berkesempatan mengikuti Taklimat Presiden Republik Indonesia bersama pimpinan perguruan tinggi dan para guru besar dari seluruh Indonesia.

Sekira 1.200 pimpinan PTN/PTS dan guru besar hadir pagi itu. Saya bersyukur menjadi salah satu profesor yang diundang dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sekaligus mengikuti forum kenegaraan yang sangat penting ini sebagai akademisi dan warga bangsa.

Para Rektor dan guru besar dari seluruh Indonesia berkumpul di Istana Kepresidenan Jakarta. Sumber Foto: Biro Pers Sekretariat Negara.

Selama kurang lebih tiga jam, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan uraian panjang, lugas, dan sangat terbuka mengenai satu tahun kerja Presiden Prabowo dan Kabinet Merah Putih sebagai fase awal transformasi bangsa. Kabinet Merah Putih yang dilantik pada 1 Oktober 2024 kini telah berusia lebih dari satu tahun—dan dari paparan beliau, terasa betul bahwa tahun pertama ini diposisikan sebagai fondasi yang menentukan arah Indonesia ke depan.

Bapak Presiden mengulas capaian dan progres pembangunan di hampir seluruh sektor strategis: pembangunan manusia dan kebudayaan, pemberdayaan masyarakat, infrastruktur dan kewilayahan, ketahanan pangan, perekonomian, keuangan negara, perencanaan pembangunan nasional, reformasi birokrasi, politik dan keamanan, hukum dan HAM, hingga politik luar negeri. Paparan itu tidak disampaikan sebagai daftar prestasi semata, melainkan sebagai potret kerja negara yang utuh—apa yang sudah dicapai, dan apa yang masih harus dibenahi.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan pidato Taklimat Presiden kepada para Rektor dan guru besar dari seluruh Indonesia di Istana Kepresidenan Jakarta. Sumber Foto: Biro Pers Sekretariat Negara

Yang paling mengesankan bagi saya adalah keterusterangan Presiden dalam menyebut hambatan nyata yang masih dihadapi bangsa ini: kebocoran anggaran, praktik under-invoicing, korupsi yang belum sepenuhnya bisa ditundukkan, serta situasi geopolitik global yang kian tidak menentu. Tak ada upaya menutup-nutupi. Justru dari kejujuran itulah terasa keseriusan negara untuk berbenah.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan pidato Taklimat Presiden kepada para Rektor dan guru besar dari seluruh Indonesia di Istana Kepresidenan Jakarta. Sumber Foto: Biro Pers Sekretariat Negara

Di tengah paparan tersebut, muncul satu pertanyaan yang mungkin juga ada di benak publik: mengapa pimpinan perguruan tinggi dan para guru besar yang diundang? Jawaban Presiden sangat jelas dan, bagi saya, sangat bermakna. Beliau menegaskan bahwa pimpinan PT dan guru besar adalah elit akademik bangsa, kelompok strategis yang diharapkan mampu melahirkan pemikiran-pemikiran terbaik untuk mengawal dan mengoreksi arah pembangunan nasional.

Kehadiran Delegasi UPI
Dari UPI, forum kenegaraan ini dihadiri oleh Prof. Dr. Didi Sukyadi selaku Rektor; para dekan, yakni Dekan FPIPS, Dekan FPSD, dan Dekan FPBS; Prof. Dr. Dadang Sudana; serta dua orang Staf Khusus Rektor. Kehadiran unsur pimpinan universitas ini mencerminkan komitmen UPI untuk terlibat aktif dalam dialog strategis negara–akademia.

Delegasi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menunggu dimulainya kegiatan Taklimat Presiden Republik Indonesia di area halaman Istana Kepresidenan. Sumber: Dokumentasi Pribadi 

Bagi saya pribadi, undangan ini adalah panggilan moral dan intelektual. Bahwa dunia akademik tidak boleh berdiri di menara gading. Ilmu, riset, dan gagasan harus hadir di ruang-ruang kebijakan, ikut memastikan bahwa pembangunan benar-benar bermuara pada kesejahteraan umum dan keadilan sosial.

Sebagai  Guru Besar bidang Sosiologi Kewarganegaraan UPI dan Direktur GCC Indonesia, saya memaknai Taklimat Presiden ini bukan sekadar agenda seremonial kenegaraan. Ia adalah ruang dialog simbolik antara negara dan kaum intelektual; sebuah penegasan bahwa masa depan Indonesia membutuhkan keberanian politik yang ditopang oleh kejernihan akademik.

Saya pulang dari Istana siang itu dengan satu keyakinan yang semakin kuat: Indonesia hanya akan maju jika negara dan perguruan tinggi berjalan beriringan—saling menguatkan, saling mengingatkan, dan sama-sama berpihak pada kepentingan rakyat.

Catatan ini saya bagikan sebagai refleksi pribadi sekaligus laporan singkat untuk media sosial. Semoga menjadi pengingat bahwa di balik setiap kebijakan negara, selalu ada ruang kontribusi bagi kita semua—terutama bagi kaum akademisi—untuk ikut menjaga arah perjalanan bangsa [Prof.Dr. Dasim Budimansyah, M.Si.].

 

Pencarian

Tentang Kami

Global Citizenship Education Cooperation Center (GCC)-Indonesia adalah lembaga yang didirikan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di bawah naungan Asia Pacific Center of Education for International Understanding (APCEIU) untuk memfasilitasi promosi Global Citizenship Education (GCED) di seluruh sistem pendidikan di Indonesia.

Views

Flag Counter

Our Social Media

YouTube: GCED ISOLAedu
Instagram: gced_isolaedu
Facebook: GCED Isolaedu
Tiktok: gced_isolaedu