Yogyakarta, 10 Mei 2025 — Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Workshop Sekolah Model GCED (Global Citizenship Education), sebuah inisiatif unggulan dari GCC Indonesia untuk memperluas praktik pendidikan kewarganegaraan global yang kontekstual, inklusif, dan transformatif. Kegiatan ini merupakan bagian dari ekspansi program Sekolah Model GCED yang sebelumnya telah berhasil dilaksanakan di Cirebon pada tahun 2024. Kini, dengan semangat kolaborasi dan keberlanjutan, program ini menjangkau tiga kota baru: Bandung, Pontianak, dan Yogyakarta.
Workshop dibuka secara resmi oleh Rektor UPY, Prof. Dr. Ir. Paiman, MP., yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesadaran global. “Keberagaman bukanlah ancaman, melainkan potensi besar untuk memperkaya kemanusiaan kita. Melalui pendidikan, kita dapat mengubah perbedaan menjadi kekuatan bersama,” ujarnya dengan penuh semangat.
Dengan mengusung tema “Dialog Antarbudaya: Merayakan Keberagaman, Membangun Pemahaman Global,” kegiatan ini menekankan pentingnya membangun jembatan komunikasi antara kelompok dengan latar belakang budaya yang berbeda. Dialog antarbudaya, sebagai proses saling mendengar dan saling memahami, diyakini menjadi fondasi penting dalam membangun dunia yang damai, adil, dan berkelanjutan.
Salah satu sesi utama dalam workshop ini adalah pemaparan dari Assoc. Prof. Dr. Septian Aji, M.Pd., Wakil Rektor III UPY, yang membawakan topik “Glocalization: Menenun Nilai Global dalam Kearifan Lokal untuk Kebudayaan Berkelanjutan.” Diskusi ini dipandu oleh Prof. Dr. Danny Meirawan, M.Pd., yang menggali lebih dalam praktik-praktik pembelajaran yang mampu menjembatani nilai-nilai global dengan konteks lokal.
Workshop ini juga menghadirkan sesi pelatihan langsung untuk guru dan kepala sekolah dari jenjang SD, SMP, dan SMA/K. Sesi pertama dipandu oleh Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si., yang memperkenalkan metodologi pengembangan Sekolah Model GCED. Pada sesi berikutnya, peserta dikelompokkan berdasarkan jenjang pendidikan: SD difasilitasi oleh Prof. Dasim Budimansyah, SMP oleh Prof. Danny Meirawan, dan SMA/K oleh Prof. Ace Suryadi, M.Sc., Ph.D.. Masing-masing kelompok menyusun rencana aksi GCED di sekolah mereka, yang kemudian dipresentasikan dan ditanggapi oleh para fasilitator.
Adapun sekolah-sekolah yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain SDN Kasihan, SDN Sembungan, SD Bantul Warung, SD Donotirto, SMPN 2 Wonosari, SMAN 1 Dlingo, SMAN 1 Bantul, SMKN Kelautan Kulon Progo, SMKN 2 Pengasih, dan SMKN 1 Nanggulan.
Yang istimewa, kegiatan ini tidak hanya berlangsung secara luring, tetapi juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube GCED Isolaedu, yang memungkinkan lebih banyak pihak untuk terlibat dan menyimak materi secara real-time. Sebanyak 838 peserta dari berbagai latar belakang terdiri dari mahasiswa, guru, dosen, kepala sekolah, hingga perwakilan dinas pendidikan dan instansi terkait tercatat mengikuti kegiatan ini, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap isu-isu keberagaman dan pendidikan kewargaan global.
Melalui sinergi antara GCC Indonesia dan Universitas PGRI Yogyakarta, workshop ini menjadi ruang reflektif dan strategis untuk memperkuat komitmen bersama dalam menanamkan nilai-nilai global yang berpijak pada kearifan lokal. Sebagaimana ditegaskan dalam kutipan GCC Indonesia, “Keberagaman bukan ancaman, tapi kekayaan. Dialog adalah jembatan untuk saling memahami dan membangun dunia yang lebih adil dan damai.”
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, GCC Indonesia berharap nilai-nilai GCED dapat terus tumbuh dan berkembang di sekolah-sekolah Indonesia, menjadikan pendidikan sebagai jalan utama menuju masyarakat global yang toleran, inklusif, dan berkeadaban.


