Bandung, 16 April 2025 – Global Citizenship Education Cooperation Centre (GCC) Indonesia sukses menggelar Workshop Pengembangan Sekolah Model Pendidikan Kewarganegaraan Global (GCED) di Kota Bandung. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian workshop di tiga kota besar sepanjang tahun 2025, yakni Bandung, Yogyakarta, dan Pontianak.

Dalam sambutan pembukaan, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekaligus Advisory GCC-Indonesia, Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., M.A., menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai global ke dalam proses pembelajaran. Menurutnya, penguatan nilai keterhubungan global, penghargaan terhadap keberagaman, dan inovasi pembelajaran yang kontekstual menjadi kunci dalam menghadapi tantangan zaman. “Melalui workshop ini, kita memperkuat pemahaman terhadap keterhubungan global, keberagaman, dan inovasi dalam pembelajaran yang adaptif terhadap tantangan zaman,” ujar Prof. Solehuddin.

Workshop ini dihadiri oleh tiga sekolah mitra utama, yakni SD Plus 2 Al Muhajirin Purwakarta, SMP Laboratorium Percontohan UPI, dan SMA Telkom Bandung. Setiap sekolah mengirimkan kepala sekolah dan guru sebagai peserta. Dalam sesi laporan, Direktur GCC-Indonesia, Prof. Dasim Budimansyah, menyampaikan bahwa kegiatan ini terinspirasi dari keberhasilan implementasi Sekolah Model GCED di Cirebon. Pendekatan berbasis proyek dan integrasi nilai global ke dalam kurikulum serta kegiatan ekstrakurikuler terbukti mampu mendorong siswa menjadi pembelajar kritis, inklusif, dan berwawasan global. Lebih lanjut, Prof. Dasim menegaskan pentingnya pelatihan berkelanjutan bagi guru, penguatan kemitraan dengan lembaga nasional dan internasional, serta edukasi publik agar GCED dapat diterima sebagai gerakan sosial yang inklusif tanpa mengesampingkan identitas lokal.

Setelah sesi laporan, peserta mendapatkan materi pengantar yang disampaikan oleh Dr (Cand.) R.DM. Johan Johor Mulyadi, Drs., M.H., Direktur Penyusunan Rekomendasi Kebijakan dan Regulasi di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Dalam paparannya yang berjudul “Dari Diplomasi ke Pendidikan: Menginspirasi Guru dan Siswa Menjadi Warga Global”, beliau menekankan pentingnya membangun kesadaran global melalui lensa Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa sekaligus sebagai jembatan menuju pemahaman antarbudaya dalam konteks internasional. “Guru dan siswa adalah aktor utama dalam membangun jejaring diplomasi sosial. Dengan semangat Pancasila, kita tidak hanya menjadi warga negara yang baik, tapi juga warga global yang bijak,” tegasnya.

Workshop di Bandung dirancang sebagai forum interaktif dan reflektif, dengan tiga fokus utama:
- Pendalaman nilai-nilai global dan penerapannya dalam pembelajaran.
- Penguatan strategi pembelajaran inovatif dan adaptif terhadap dinamika global.
- Perluasan jejaring kolaborasi antara sekolah, GCC-Indonesia, dan institusi pendidikan lainnya.

Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam membangun kultur pendidikan yang tidak hanya menekankan capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kepedulian, dan tanggung jawab global. Sinergi antara inovasi lokal dan nilai-nilai universal menjadi fondasi dalam mencetak pelajar Pancasila yang siap menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi dalam pembangunan dunia yang lebih inklusif dan berkelanjutan.


