Perkuat Pendidikan Kewargaan Global Berbasis Kearifan Lokal, GCC Indonesia Gelar Bedah Buku Cerita Rakyat Maphilindo

BANDUNG — Global Citizenship Education Cooperation Centre (GCC) Indonesia bersama GCC Malaysia dan GCC Philippines menggelar kegiatan Bedah Buku Maphilindo Folktales for Global Citizenship Education di Kantor GCC Indonesia, Gedung Sadarjoen Siswomartojo, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, pada Rabu (19/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB ini diselenggarakan sebagai bagian dari proses penyempurnaan naskah sebelum buku memasuki tahap finalisasi dan penerbitan. Buku ini disiapkan khusus sebagai sumber pembelajaran bagi peserta didik sekolah dasar dan menengah.

Buku kolaboratif tiga lembaga GCED kawasan Asia Tenggara ini menghimpun cerita rakyat pilihan dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Melalui pendekatan Maphilindo, cerita dari ketiga negara dipertemukan tanpa menghilangkan kekhasan budaya masing-masing, sekaligus membuka ruang dialogis dan refleksi mengenai nilai-nilai kewargaan global.

Direktur GCC Indonesia sekaligus Ketua Editor buku, Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh telaah dan masukan akademik terhadap berbagai aspek, mulai dari substansi, representasi budaya, relevansi nilai GCED, pendekatan pedagogis, hingga aspek editorial.

“Setiap cerita harus terlebih dahulu hadir sebagai karya naratif yang utuh, kemudian menjadi pintu masuk bagi refleksi kehidupan masa kini dan kewargaan global,” tegas Prof. Dasim mengenai prinsip penyusunan buku tersebut.

Bedah 4 Cerita Rakyat Lintas Negara

Dalam kegiatan ini, empat cerita rakyat dari Indonesia dan Malaysia dipedah secara mendalam dari sudut pandang nilai-nilai Global Citizenship Education:

  • Lutung Kasarung (Pasundan, Jawa Barat): Diumpamakan oleh pembedah Prof. Dr. Dedi Koswara, M.Hum. bahwa narasi transformasi wujud sang tokoh utama merupakan metafora tentang keberagaman, inklusi, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

  • Malin Kundang (Minangkabau, Sumatera Barat): Dibahas oleh Prof. Dr. Usep Kuswari, M.Pd., yang menekankan bahwa kisah klasik ini menyimpan lapisan makna terkait martabat manusia dan integritas. Cerita ini diajak untuk dibaca ulang secara kritis mengenai relasi keluarga dan konsekuensi pilihan hidup.

  • Puteri Gunung Ledang (Malaysia): Dipaparkan oleh Prof. Madya Dr. Rohizani binti Yaaqub bersama Tim GCC Malaysia, di mana narasi syarat mustahil sang puteri dibaca sebagai representasi nilai perdamaian, kebebasan individu, dan batas-batas kekuasaan.

  • Pak Kaduk (Malaysia): Juga diulas oleh Prof. Rohizani sebagai cermin sindiran sosial Melayu yang menyoroti keadilan sosial, pemikiran kritis, hak, serta ketimpangan relasi kuasa.

Peluang Masuk Kurikulum Muatan Lokal Jawa Barat

Dari perspektif kebijakan pendidikan, forum ini juga membuka wacana penting mengenai pemanfaatan buku Cerita Rakyat Maphilindo sebagai muatan lokal di satuan pendidikan Jawa Barat. Mengacu pada semangat otonomi kurikulum, kehadiran cerita Lutung Kasarung dinilai selaras dengan upaya pelestarian identitas budaya daerah sekaligus penguatan wawasan global.

Para akademisi yang hadir berharap hasil penyempurnaan buku ini dapat ditindaklanjuti hingga tahap kajian kebijakan oleh dinas pendidikan setempat, sehingga berpeluang menjadi salah satu buku bacaan wajib muatan lokal di sekolah menengah se-Jawa Barat.

Landasan Konstitusional dan Payung Hukum

Landasan pengembangan materi ini turut diperkuat dari sisi hukum oleh Prof. Dr. Ridwan Purnama, S.H., M.Si. Ia menjelaskan bahwa langkah ini sejalan dengan Pasal 31 UUD NRI 1945 tentang hak memperoleh pendidikan dan Pasal 32 UUD NRI 1945 mengenai kewajiban negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.

Amanat konstitusi tersebut juga terintegrasi dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), yang memberikan kewenangan kepada satuan pendidikan dan pemerintah daerah untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal berbasis kearifan daerah.

Acara ini turut dihadiri jajaran akademisi lintas negara, antara lain perwakilan GCC Malaysia seperti Dr. Syed Mohamad bin Syed Abdullah dan Prof. Madya Dr. Rahimi binti Che Aman, serta jajaran GCC Indonesia termasuk Dr. R. Dian Muhammad Johan Johor Mulyadi, M.Hum., Dr. Nisrina Nurul Insani, M.Pd. selaku pembawa acara dan notulis, beserta para undangan lainnya.

Melalui forum ini, kolaborasi GCC Indonesia, GCC Malaysia, dan GCC Philippines menegaskan komitmen bersama dalam mendorong generasi muda yang kritis, damai, inklusif, dan saling menghormati di tengah perbedaan.

Pencarian

Tentang Kami

Global Citizenship Education Cooperation Center (GCC)-Indonesia adalah lembaga yang didirikan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di bawah naungan Asia Pacific Center of Education for International Understanding (APCEIU) untuk memfasilitasi promosi Global Citizenship Education (GCED) di seluruh sistem pendidikan di Indonesia.

Views

Flag Counter

Our Social Media

YouTube: GCED ISOLAedu
Instagram: gced_isolaedu
Facebook: GCED Isolaedu
Tiktok: gced_isolaedu