Pertukaran Budaya sebagai Pendidikan Kewargaan Global

Belajar menjadi warga dunia tidak selalu dimulai dari ruang kuliah. Kadang-kadang, ia tumbuh melalui bunyi gendang, gerak tari, alunan angklung, dan perjumpaan yang tulus antarmanusia.

Oleh: Dr. Dasim Budimansyah
Director of GCC Indonesia

Profesor bidang Sosiologi Kewarganegaraan

Universitas Pendidikan Indonesia

Pada Kamis, 23 Juli 2026, Auditorium Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia menjadi ruang perjumpaan dua kebudayaan melalui kegiatan Korea–Indonesia Cultural Exchange Showcase 2026. Delegasi Honam University, Korea Selatan, yang terdiri atas sekitar 30 mahasiswa dan staf serta dipimpin oleh Prof. Kim Young Kyun, hadir bersama mahasiswa dan sivitas akademika Program Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS UPI.

Kegiatan yang disponsori oleh Global Citizenship Education Cooperation Centre Indonesia atau GCC Indonesiatersebut secara resmi dibuka oleh Dekan FPIPS UPI. Berbagai ekspresi budaya ditampilkan, mulai dari K-Pop cover dance, demonstrasi taekwondo, dan samulnori dari Korea Selatan hingga pertunjukan angklung dan tari tradisional Indonesia.

Sekilas, kegiatan tersebut dapat dipandang sebagai pertunjukan seni dan hiburan. Namun, apabila dimaknai lebih mendalam, pertukaran budaya sesungguhnya merupakan salah satu bentuk pendidikan kewargaan global yang paling nyata. Di dalamnya terdapat proses saling mengenal, saling menghormati, membangun empati, serta belajar hidup bersama di tengah perbedaan.

Budaya Bukan Sekadar Tontonan

Budaya bukan hanya sesuatu yang dipertontonkan di atas panggung. Di dalam musik, tarian, pakaian, bahasa, dan tradisi tersimpan cara suatu masyarakat memahami kehidupan, membangun hubungan sosial, menghormati leluhur, dan memaknai kebersamaan.

Ketika mahasiswa Indonesia menyaksikan samulnori, mereka tidak hanya mendengarkan permainan alat musik tradisional Korea. Mereka sedang berhadapan dengan salah satu ekspresi sejarah dan identitas masyarakat Korea. Demikian pula ketika delegasi Korea menyaksikan angklung, yang diperkenalkan bukan hanya alat musik dari bambu, melainkan nilai harmoni, kerja sama, dan ketergantungan satu sama lain.

Satu angklung hanya menghasilkan nada tertentu. Sebuah lagu baru tercipta ketika setiap pemain menjalankan perannya dengan tepat dan mendengarkan pemain lainnya. Di sinilah angklung memberikan pelajaran kewargaan yang kuat: masyarakat yang harmonis tidak dibentuk oleh penyeragaman, melainkan oleh kemampuan mengelola perbedaan menjadi suatu kesatuan.

Demonstrasi taekwondo juga tidak semata-mata memperlihatkan kekuatan fisik. Di dalamnya terdapat disiplin, pengendalian diri, keberanian, dan penghormatan. Tari tradisional Indonesia pun bukan sekadar rangkaian gerak yang indah, tetapi ekspresi nilai, identitas, dan hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya.

Dengan demikian, pertukaran budaya membantu peserta memahami bahwa setiap kebudayaan mempunyai sistem nilai yang patut dihormati. Kita belajar melihat masyarakat lain bukan melalui prasangka dan stereotip, melainkan melalui dialog dan pengalaman langsung.

Dari Mengenal Menuju Memahami

Salah satu tantangan dunia kontemporer adalah meningkatnya perjumpaan antarbudaya yang tidak selalu diikuti oleh peningkatan pemahaman. Teknologi digital membuat manusia semakin terkoneksi, tetapi konektivitas tidak otomatis melahirkan kedekatan. Informasi tentang bangsa lain dapat tersebar dengan cepat, tetapi informasi tersebut sering kali dangkal, terpotong, bahkan dipenuhi stereotip.

Pertukaran budaya memberikan pengalaman yang berbeda. Mahasiswa tidak hanya membaca atau menonton budaya negara lain melalui layar, tetapi berinteraksi langsung dengan orang-orang yang menghidupi budaya tersebut. Mereka dapat berbicara, bertanya, tertawa, bekerja sama, dan menemukan persamaan di tengah perbedaan.

Perjumpaan seperti inilah yang dibutuhkan dalam Global Citizenship Education. GCED tidak mengajarkan seseorang untuk meninggalkan identitas nasionalnya agar menjadi warga global. Sebaliknya, seseorang perlu mengenali dan mencintai budayanya sendiri sekaligus terbuka untuk memahami budaya masyarakat lain.

Menjadi warga global bukan berarti menjadi manusia tanpa akar. Warga global yang baik justru memiliki identitas yang kuat, tetapi tidak menjadikan identitas tersebut sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Tiga Dimensi Pendidikan Kewargaan Global

Pertukaran budaya memiliki keterkaitan erat dengan tiga dimensi utama GCED, yaitu dimensi kognitif, sosial-emosional, dan perilaku.

Pada dimensi kognitif, peserta memperoleh pengetahuan tentang tradisi, sejarah, seni, dan kehidupan masyarakat negara lain. Pengetahuan tersebut memperluas cara pandang serta membantu peserta memahami bahwa persoalan kehidupan tidak dapat dibaca hanya dari satu perspektif budaya.

Pada dimensi sosial-emosional, peserta mengembangkan empati, rasa hormat, keterbukaan, dan kesadaran akan kemanusiaan bersama. Mereka belajar bahwa di balik perbedaan bahasa dan kebiasaan terdapat harapan yang sama terhadap kehidupan yang damai, bermartabat, dan sejahtera.

Pada dimensi perilaku, perjumpaan mendorong peserta untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan membangun hubungan yang nyata. Pendidikan kewargaan global tidak berhenti pada mengetahui pentingnya toleransi, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan menghargai, mendengarkan, dan memperlakukan orang lain secara setara.

Dalam kegiatan tersebut, proses tukar-menukar cendera mata antara Universitas Pendidikan Indonesia dan Honam University juga mempunyai makna lebih daripada sekadar seremoni. Sebagai Director of GCC Indonesia, saya berkesempatan menyerahkan cendera mata kepada Prof. Kim Young Kyun selaku pimpinan delegasi Honam University serta kepada Mr. Chong, Kepala Canaan Farmer Institute.

Cendera mata merupakan simbol penghormatan dan persahabatan. Ia menyampaikan pesan bahwa kedua belah pihak tidak hanya datang untuk saling menampilkan kebudayaan, tetapi juga membawa komitmen untuk menjaga hubungan dan mengembangkan kerja sama pada masa mendatang.

Budaya sebagai Jalan Perdamaian

Perdamaian tidak hanya dibangun melalui pertemuan diplomatik atau perjanjian antarnegara. Perdamaian juga tumbuh dari perjumpaan sederhana di antara masyarakat, terutama generasi muda.

Konflik sering kali berawal dari ketidaktahuan, prasangka, dan kegagalan melihat orang lain sebagai sesama manusia. Pertukaran budaya membuka ruang untuk mengurangi jarak tersebut. Ketika seseorang telah mengenal budaya, wajah, cerita, dan keramahan masyarakat lain, akan lebih sulit baginya untuk memandang masyarakat tersebut hanya melalui stereotip.

Karena itu, pertukaran budaya merupakan bentuk peacebuilding atau pembangunan perdamaian. Ia membangun fondasi perdamaian dari bawah melalui pengalaman, persahabatan, dan kepercayaan antarmanusia.

Dalam konteks ini, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab penting. Universitas bukan hanya tempat menghasilkan lulusan dan publikasi, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan generasi yang mampu hidup dalam keberagaman. Internasionalisasi pendidikan seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah kerja sama, mahasiswa asing, atau dokumen kesepakatan. Internasionalisasi harus menghasilkan perubahan cara pandang: dari cara berpikir yang tertutup menjadi terbuka, dari prasangka menuju pemahaman, dan dari kompetisi semata menuju kolaborasi.

Kontribusi terhadap SDGs

Kegiatan ini juga mempunyai makna penting bagi pencapaian Sustainable Development Goals.

Pertama, kegiatan ini mendukung SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, terutama Target 4.7 yang menekankan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, kewargaan global, budaya damai, penghargaan terhadap keberagaman budaya, serta kontribusi budaya terhadap pembangunan berkelanjutan. Pendidikan berkualitas tidak hanya menghasilkan peserta didik yang menguasai pengetahuan, tetapi juga manusia yang mampu hidup bersama secara bertanggung jawab.

Kedua, pertukaran budaya mendukung SDG 16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang kuat. Masyarakat yang damai memerlukan warga yang mampu berdialog, menghormati perbedaan, menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, dan menolak diskriminasi.

Ketiga, kegiatan ini menguatkan SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan. Kerja sama antara UPI, Honam University, GCC Indonesia, dan mitra lainnya menunjukkan bahwa tantangan global tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi atau satu negara. Pendidikan, perdamaian, dan pembangunan berkelanjutan memerlukan kemitraan lintas batas.

Namun, kontribusi terhadap SDGs tidak boleh berhenti pada pencantuman nomor tujuan dalam poster atau laporan kegiatan. Nilai SDGs harus tampak dalam proses penyelenggaraan: partisipasi yang setara, penghormatan terhadap budaya, akses yang inklusif, kerja sama, dan tindak lanjut yang berkelanjutan.

Dari Pertunjukan Menuju Kolaborasi

Kegiatan pertukaran budaya akan memiliki makna yang lebih kuat apabila tidak berakhir ketika panggung ditutup. Perjumpaan perlu dilanjutkan melalui kerja sama akademik, proyek mahasiswa, dialog daring, penulisan bersama, penelitian lintas budaya, dan kegiatan pengabdian masyarakat.

Mahasiswa Indonesia dan Korea dapat mengembangkan proyek bersama tentang perdamaian, keberagaman, lingkungan, pendidikan karakter, atau kehidupan masyarakat lokal. Dari sana, pertukaran budaya berkembang menjadi pertukaran gagasan dan tindakan bersama.

Inilah arah yang perlu terus dikembangkan oleh GCC Indonesia. GCED harus hadir sebagai pengalaman nyata yang memungkinkan peserta didik mengalami sendiri bagaimana menjadi bagian dari komunitas dunia. Mereka bukan hanya mempelajari dunia, tetapi juga belajar mengambil tanggung jawab terhadapnya.

Korea–Indonesia Cultural Exchange Showcase 2026 mengingatkan kita bahwa jalan menuju kewargaan global dapat dimulai dari panggung budaya. Musik dan tarian mempertemukan manusia, tetapi pendidikan harus membawa perjumpaan tersebut menuju pemahaman, persahabatan, dan tindakan bersama.

Pada akhirnya, dunia yang damai tidak dibangun oleh manusia yang sama, melainkan oleh manusia yang berbeda tetapi bersedia saling mengenal, saling menghormati, dan bekerja sama. Di situlah pertukaran budaya menemukan makna terdalamnya: bukan hanya merayakan keindahan tradisi, tetapi juga mendidik kita untuk hidup sebagai sesama warga dunia.

Referensi

Banks, J. A. (2008). Diversity, group identity, and citizenship education in a global age. Educational Researcher, 37(3), 129–139. https://doi.org/10.3102/0013189X08317501

Deardorff, D. K. (2006). Identification and assessment of intercultural competence as a student outcome of internationalization. Journal of Studies in International Education, 10(3), 241–266. https://doi.org/10.1177/1028315306287002

Galtung, J. (1996). Peace by peaceful means: Peace and conflict, development and civilization. SAGE Publications.

Panitia Korea–Indonesia Cultural Exchange Showcase 2026. (2026). Korea–Indonesia Cultural Exchange Showcase 2026 [Poster kegiatan]. Program Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, Honam University, dan GCC Indonesia.

UNESCO. (2006). UNESCO guidelines on intercultural education. UNESCO.

UNESCO. (2013). Intercultural competences: Conceptual and operational framework. UNESCO.

UNESCO. (2014). Global citizenship education: Preparing learners for the challenges of the 21st century. UNESCO.

UNESCO. (2015). Global citizenship education: Topics and learning objectives. UNESCO.

UNESCO. (2017). Education for Sustainable Development Goals: Learning objectives. UNESCO. https://doi.org/10.54675/CGBA9153

UNESCO. (2020). Manual for developing intercultural competencies: Story circles. UNESCO.

UNESCO. (2023). Recommendation on education for peace and human rights, international understanding, cooperation, fundamental freedoms, global citizenship and sustainable development. UNESCO.

United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 Agenda for Sustainable Development. United Nations General Assembly, Resolution A/RES/70/1

Pencarian

Tentang Kami

Global Citizenship Education Cooperation Center (GCC)-Indonesia adalah lembaga yang didirikan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di bawah naungan Asia Pacific Center of Education for International Understanding (APCEIU) untuk memfasilitasi promosi Global Citizenship Education (GCED) di seluruh sistem pendidikan di Indonesia.

Views

Flag Counter

Our Social Media

YouTube: GCED ISOLAedu
Instagram: gced_isolaedu
Facebook: GCED Isolaedu
Tiktok: gced_isolaedu