Pendidikan kewarganegaraan global menjadi sorotan utama dalam kegiatan “Studium Generale” yang berlangsung pada Rabu, 6 September 2023, di Auditorium FPIPS UPI, kegiatan ini dihadiri 12 dosen UPI, 150 mahasiswa secara langsung, 500 mahasiswa dalam sesi Zoom Meeting, dan 5.400 penonton yang menyaksikan melalui YouTube Live Streaming. Kegiatan ini menghadirkan tiga pembicara ternama yang membahas pentingnya pendidikan kewarganegaraan global bagi masa depan Indonesia.
Pembicara utama dalam kuliah umum ini adalah Dr. Itje Chodidjah, M.A., yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO. Dr. Itje menyoroti bahwa pendidikan kewarganegaraan global memiliki peran krusial dalam mempersiapkan warga negara untuk berperan aktif dalam berbagai bidang di tingkat global, seperti sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, dan pendidikan.


Dr. Itje juga menekankan bahwa pendidikan kewarganegaraan global bukan semata mata pelajaran, bahkan dapat diterapkan sejak pendidikan anak usia dini. Menurutnya, penting untuk memperkaya kesadaran warga negara global. Dr. Itje mengatakan, “Kita tidak akan menjadi warga negara global jika kita tidak terlebih dahulu menjadi warga negara Indonesia, dan kita perlu mempertahankan nasionalisme Indonesia yang kuat. Ini penting karena ketika kita berperan di tingkat global, kita harus memiliki identitas yang kuat. Jadi, ketika berbicara tentang kebinekaan global, ini juga berarti bahwa kebinekaan di tingkat nasional harus tetap kokoh, karena tanpa identitas yang kuat, kita sulit untuk bersaing di panggung global yang lebih luas”. Sebagai warga global diperlukan pemahaman dan kesadaran untuk berpartisipasi dan bergotong royong menjaga agar kehidupan di bumi ini lebih damai, lebih adil, dan berkelanjutan.

Prof. Dr. Mamat Ruhimat, M.Pd., Wakil Dekan Bidang Akademik FPIPS UPI, menambahkan bahwa konsep “global citizenship” mulai mendapat perhatian yang lebih besar akhir-akhir ini. Ia mengungkapkan bahwa “global citizenship ini mengarah kepada sebuah kesadaran bahwa kita hidup tidak sendiri, kita hidup bukan hanya di Indonesia, kita hidup ditengah-tengah dunia. Bagaimana kita dapat hidup harmonis dalam keragaman ini tidak seharusnya menjadi masalah, karena kita semua lahir dengan perbedaan. Jika ada individu yang tidak menyukai perbedaan, sesungguhnya ia melanggar kodrat kemanusiaannya” tegasnya.

Terakhir, Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si., Direktur GCC Indonesia, menyimpulkan bahwa pendidikan kewarganegaraan global bukan sekadar mata pelajaran atau mata kuliah, melainkan pendekatan pendidikan yang bertujuan mengembangkan tiga aspek penting: rasa hormat, solidaritas, dan rasa kemanusiaan. Menurutnya, sebagai warga negara global, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga perilaku kita sendiri dalam menciptakan dunia yang damai, adil, dan berkelanjutan.


Kegiatan ini ditutup dengan beragam hiburan, termasuk penampilan menyanyi dari dosen, kuis pembelajaran, dan pertunjukan bakat dari mahasiswa. Sebanyak 10 mahasiswa menampilkan bakat mereka, sementara 4 mahasiswa berpartisipasi dalam kuis. Kegiatan ini merupakan bagian dari seri webinar GCC Indonesia yang pertama, dengan sembilan seri webinar berikutnya yang bertujuan untuk mempromosikan pendidikan kewarganegaraan global di seluruh sistem pendidikan Indonesia.


